Teladan Islam | Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua (18)


Nabi Muhammad SAW bersabda : "Jika ibumu memanggilmu, bertaqwalah kepada Allah dalam hal mentaatinya, engkau jangan mendurhakainya dan layanilah ia dengan baik."

Ibnu Al-Munkadir berkata : "Bila orang tuamu memanggilmu, sementara kamu melakukan sholat (sunnat), maka penuhilah."...

Al-Awam berkata : "Aku berkata kepada Mujahid : "Adzan telah dikumandangkan, lalu orang tuaku memanggilku." Maka Al Mujahid berkata : "Penuhilah panggilan ayahmu."

Tidak dibenarkan seorang mukmin tidak menghiraukan panggilan kedua orang tuanya bahkan dalam sholatpun, apabila orang tua memanggilnya ia harus menjawab (memenuhi) panggilannya.

Di dalam salah satu hadist pernah disebutkan : "Apabila ibumu memanggilmu dalam keadaan sholat, maka penuhilah, apabila ayahmu yang memanggilmu, maka janganlah dikabulkan sehingga kamu selesai sholat."

Hadits-hadits di atas memerintahkan agar kita menaati ibu ketika ia memanggil kita. Dalam keadaan yang biasa, ketika orang tua memanggil, kita selalu datang menghadap mereka dan siap melayani mereka. Jika kita sedang mengerjakan sholat, maka penjelasannya adalah, jika orang tua kita memanggil karena keadaan darurat, misalnya ketika keluar dari kamar kecil lalu mereka terpelset atau khawatir akan jatuh dan tidak ada seorang pun yang dapat menolong mereka, maka diwajibkan untuk menghentikan sholat wajibnya untuk menolong mereka. Dan jika mereka tidak menghendaki pertolongan sebagaimana yang dijelaskan diatas, tetapi hanya panggilan biasa, maka tidak pantas jika menghentikan sholat wajib.

Apabila kita sedang memulai sholat sunnat atau nafil, kemudian orang tua memanggil tetapi mereka tidak tahu bahwa anaknya sedang mengerjakan sholat, maka diwajibkan untuk menghentikan sholatnya dan menjawab panggilannya, entah mereka memanggil untuk keperluan yang mendesak atau tidak. Dalam kasus ini, jika kita tidak menghentikan sholat dan tidak menyahut mereka, maka itu merupakan suatu dosa. Namun jika mereka mengetahui bahwa anaknya sedang mengerjakan sholat tetapi mereka memanggil tanpa keperluan, maka tidak boleh  menghentikan sholat tersebut.

Dan jika ada kekhawatiran bahwa apabila kita tidak menyahut panggilan mereka akan terjadi berbahaya, maka kita harus menghentikan sholat kita dalam keadaan apapun, terlepas dari apakah mereka tahu atau tidak kita sedang mengerjakan sholat.

Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang seorang anak yang tidak menjawab panggilan ibunya ketika sholat sunnat.

Abu Hurairah ra meriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, bahwa ada seorang laki-laki bernama Juraij. Ia seorang ahli ibadah yang membuat suatu shauma'ah (biara) untuk ibadahnya.

Pada suatu hari ibu Juraij meanggilnya : "Juraij, wahai, Juraij." Ketika itu Juraij sedang melakukan sholat dengan khusu'. Dia kebingungan dan berkata dalam hati : "Apakah aku menjawab panggilan ibu, ataukah harus meneruskan sholat." Dia semakin bingung dan akhirnya dia memutuskan untuk meneruskan sholat.

Ibunya memanggil Juraij untuk yang kedua kalinya ; "Wahai Juraij, anakku dimana engkau?" Juraij bertambah bingung, antara menjawab panggilan ibunya atau meneruskan sholatnya dan akhirnya dia memilih melanjutkan sholatnya.

Ibunya masih berteriak memanggil dengan suara yang lebih keras dan kesal : "Dimana engkau wahai Juraij, kesinilah dulu!" Dia sangat kebingungan, apakah memenuhi panggilan ibunya atau meneruskan sholat. Oleh karena sholatnya tinggal sedikit, maka dia memilih melanjutkan sholat. Tidak memperdulikan panggilan ibunya.

Sudah tiga kali sang ibu memanggil anaknya dan tidak diperdulikan. Maka kemarahan pun memuncak. Dan sang ibu terlanjur mengutuk anaknya : "Wahai Juraij, semoga Allah tidak mencabut nyawamu sebelum engkau melihat tampang seorang pelacur. Dengan perasaan kesal dan sedih sang ibu kembali ke rumah.

Juraij memang sangat terkenal seorang ahli ibadah di kalangan Bani Israil, sehingga terjadi seorang wanita pelacur yang terkenal kecantikkannya berkata :"Saya dapat menggugurkan ibadah Juraij." Maka pelacur itu berusaha merayu Juraij dengan segala daya penariknya tetapi ternyata Juraij tidak dapat tergoda olehnya sehingga jengkellah pelacur itu, maka ia memutuskan untuk berzina dengan seorang penggembala yang tidak jauh dari biara Juraij, sehingga ia hamil.

Dan ketika bayi yang dikandung pelacur itu mengadu kepada sang raja : "Wahai Raja, aku telag melahirkan seorang anak." Raja bertanya : "Dari siapakah engkau mempunyai anak?" Pelacur itu menjawab : "Dari Juraij." Raja bertanya lagi : "Maksudmu orang yang mempunyai biara ini?" Pelacur menjawab : "Ya, betul."

Sang Raja sangat murka dan menyuruh orang untuk menangkap Juraij dan dihadapkan ke depan sang Raja. Dengan berjalan kaki dan kedua tangan diikat pada leher, Juraij menghadap kepada sang Raja, dengan melewati kerumunan para pelacur. Mereka menyaksikan iring-iringan itu, tetapi Juraij nampak kalem, tenang dan tersenyum. Sang Raja memerintahkan agar biaranya dihancurkan dan orang-orang pun datang berbondong-bondong untuk menghancurkannya, sehingga rta dengan tanah.

Juraij tiba dihadapkan Raja. Lalu Raja bertanya : "Wahai Juraij, wanita ini menuduhmu telah menghamilinya. Bagaimana pendapatmu?" Dengan tenang Juraij menjawab : "Apalagi yang dituduhkannya kepadaku?" Raja berkata :"Apalagi mengatakan bahwa anaknya adalah anakmu." Kemudian Juraij menoleh kepada sang pelacur, seraya berkata : "Apakah benar tuduhanmu itu, bahwa aku menggaulimu?" Pelacur menjawab : "Ya, benar." Juraij bertanya : "Sekarang dimanakah anak itu?" Pelacur menjawab : "Dia berada dalam ayunan."

Lalu JUraij menghampiri bayi yang tiada berdosa itu dan bertanya : "Wahai anak manis, siapakah ayahmu?" Tiba-tiba anak yang dalam ayunan itu menjawab : "Penggembala sapi."

Semua yang hadir terperanjat menyaksikan keanehan tersebut dan merasa sangat bersalah kepada Juraij, terutama sang Raja. Dengan rasa malu dan penuh penyesalan sang Raja berkata : "Wahai Juraij, maukah saya bangunkan kembali biaramu itu dengan bahan serba emas?" Juraij menjawab : "Tidak." Kemudian Raja berkata lagi : "Atau saya membangunnya kembali dengan perak?" Juraij menjawab : "Tidak." Raja berkata : "Terus dengan apa saya harus membangunnya kemabli?" Juraij menjawab : "Bangun saja seperti sedia kala."

Maka sang Raja memerintahkan agar biara milik Juraij dibangun kembali seperti semula. Raja kembali bertanya kepada Juraij : "Mengapa kamu menerima semua kenyataan ini dengan tersenyum. Bahkan ketika ditonton oleh para pelacur pun kamu kelihatan tenang dan tetap menghadiahkan senyuman?" Juraij menjawab : "Ketika itu aku baru sadar bahwa kata-kata ibuku telah didengar dan dikabulkan oleh Allah." Dan kemudian Juraij menceritakan kepada mereka atas apa yang telah terjadi atas dirinya.

Perhatikanlah kisah di atas dan ambillah pelajarab dari kisah tersebut. Juraij adalah seorang yang shalih yang rajin mengerjakan amalan sunnat. Ketika ibunya memanggilnya, ia tidak menjawab. Sikapnya itu menyakitkan hati ibunya sehingga keluarlah kata-kata kutukan itu dari lisan ibunya, sehingga kutukannya tersebut menjadi kenyataan. Dan bagi seorang anak, jangan sampai mengabaikan panggilan orang tua. Padahal di zaman kini banyak terjadi anak tidak memperdulikan panggilan orang tua. Apalagi sedang asyik dengan kegiatan yang menjadi kegemarannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar