Dua
puluh satu tahun telah berlalu usia pernikahanku. Sedikit banyak, aku
telah mendapatkan cahaya baru dari kilasan-kilasan cinta. Suatu waktu
aku akan keluar bersama seorang wanita, dan dia bukan istriku. Ide
tersebut lahir dan disarankan oleh istriku ketika suatu hari ia
melintas di hadapanku dan berkata, “Aku tahu bahwa abang sangat
mencintainya.” Wanita yang istriku berharap aku dapat keluar
bersamanya dan menyediakan waktu yang cukup untuk menemaninya adalah
‘bundaku’.
Beliau telah menjalani masa sendiri selama sembilan
belas tahun semenjak ditinggal pergi oleh ayahku selamanya. Namun
pekerjaan-pekerjaan di kantor, kehidupan harianku bersama tiga orang
‘pangeran-pangeran kecilku’ dan tanggungjawab-tangggungjawab lain
yang menyebabkan aku sangat jarang sekali menjenguknya. Suatu hari
aku menelepon dan mengundang beliau untuk ikut makam malam.
Pertanyaan beliau menakjubkanku, “Apakah Asha baik-baik saja?”
Maklum, menurutku beliau tidak biasa menanyakan ungkapan-ungkapan
seperti itu kepadaku, terutama mungkin mengenai waktu aku
menghubungi beliau di saat tengah malam.....